Blog & Berita 5 Jenis Kanker Kepala dan Leher yang Paling Umum
Bali International Hospital Bali International Hospital

5 Jenis Kanker Kepala dan Leher yang Paling Umum

Waktu baca 5 menit . 26 Mei 2026
130 tayangan
Kesehatan & Kesejahteraan

Kanker kepala dan leher cukup umum terjadi di Indonesia, dan banyak orang mungkin tidak menyadari tanda-tanda peringatan dini. Kanker ini biasanya berkembang di area seperti hidung, tenggorokan, mulut, atau kotak suara.


Sebagian besar di antaranya adalah jenis yang disebut karsinoma sel skuamosa, yang terbentuk di lapisan area tersebut. Memahami jenis-jenis kanker kepala dan leher yang paling umum dapat membantu Anda mengenali gejala lebih awal dan mencari perawatan medis lebih cepat.


Deteksi dini dapat membuat perbedaan besar dalam keberhasilan pengobatan. Berikut adalah lima jenis kanker kepala dan leher yang paling umum di Indonesia yang perlu Anda ketahui:


1. Karsinoma Nasofaring (NPC)


Karsinoma nasofaring, atau NPC, adalah kanker kepala dan leher yang paling umum di Indonesia. Kanker ini bermula di nasofaring, yaitu bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung.


Kanker ini sangat terkait dengan virus Epstein-Barr (EBV) dan lebih sering ditemukan pada pria, terutama mereka yang berusia 40 hingga 60 tahun.


Gejala umum:


  • Hidung tersumbat atau mampet yang tidak kunjung sembuh
  • Mimisan yang sering terjadi
  • Tinnitus (telinga berdenging) atau masalah pendengaran
  • Benjolan di leher


Gejala-gejala ini bisa terasa seperti flu biasa atau masalah sinus, itulah sebabnya banyak orang mengabaikannya. Jika berlangsung lebih dari dua minggu, penting untuk memeriksakan diri.


2. Kanker Rongga Mulut


Kanker rongga mulut menyerang bagian mulut, termasuk:

  • Bibir
  • Lidah
  • Permen karet
  • Pipi bagian dalam


Ini adalah salah satu jenis kanker yang paling umum di kelompok ini di seluruh dunia dan juga cukup umum di Indonesia.


Penyebab utama:


  • Merokok atau menggunakan tembakau
  • Mengunyah sirih
  • Minum alkohol
  • Kebersihan gigi yang buruk


Gejala yang perlu diwaspadai:


  • Sariawan di mulut yang tidak kunjung sembuh
  • Bercak merah atau putih di dalam mulut
  • Nyeri saat mengunyah atau menelan
  • Pendarahan di mulut tanpa sebab yang jelas


Karena mulut mudah diperiksa, kunjungan rutin ke dokter gigi dapat membantu mendeteksi kanker ini sejak dini. Jika diperlukan, dokter Anda mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut melalui layanan onkologi khusus.


3. Kanker Laring


Kanker laring berkembang di kotak suara (laring). Jika tidak diobati sejak dini, kanker ini dapat memengaruhi cara Anda berbicara dan bernapas.


Faktor risiko umum:


  • Merokok jangka panjang
  • Sering mengonsumsi alkohol
  • Paparan debu atau bahan kimia berbahaya


Tanda dan gejala:


  • Suara serak atau perubahan suara yang berlangsung lama
  • Batuk terus-menerus
  • Kesulitan menelan
  • Sesak napas


Jika suara Anda terdengar berbeda selama lebih dari dua minggu, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Diagnosis dini dapat dilakukan dengan ahli onkologi berpengalaman dapat membantu melindungi suara dan pernapasan Anda.


4. Kanker Hipofaring dan Orofaring


Kanker-kanker ini menyerang berbagai bagian tenggorokan:

  • Kanker hipofaring terjadi di bagian bawah tenggorokan
  • Kanker orofaring mempengaruhi amandel, bagian belakang lidah, dan bagian atas tenggorokan


Dalam beberapa kasus, kanker orofaring dikaitkan dengan human papillomavirus (HPV).


Gejala umum:


  • Sakit tenggorokan yang tak kunjung sembuh
  • Nyeri saat menelan
  • Sakit telinga tanpa infeksi
  • Benjolan di leher


Kanker ini mungkin sulit dideteksi pada tahap awal karena gejalanya mungkin ringan. Pencitraan canggih melalui paket perawatan radiologi atau paket layanan radiologi dapat membantu mendeteksi kelainan lebih awal.


5. Kanker Tiroid


Kanker tiroid bermula di kelenjar tiroid, yang terletak di bagian depan leher. Meskipun berbeda dari kanker kepala dan leher lainnya, kanker tiroid sering kali dikelompokkan dalam kategori yang sama.

Jenis yang paling umum adalah kanker tiroid papileryang biasanya tumbuh lambat dan memiliki peluang sembuh yang baik jika diobati sejak dini.


Gejala yang mungkin muncul meliputi:


  • Benjolan atau pembengkakan di leher
  • Perubahan pada suara Anda
  • Kesulitan menelan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening


Dalam beberapa kasus, sebuah pemeriksaan MRI seluruh tubuh untuk skrining kanker Mungkin disarankan untuk mendeteksi kanker sejak dini, terutama bagi individu dengan risiko lebih tinggi.


Mengapa Deteksi Dini Penting?


Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kanker kepala dan leher adalah gejalanya seringkali tampak ringan pada awalnya. Banyak orang mengira itu hanya infeksi atau iritasi ringan dan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter.


Namun, deteksi dini dapat sangat meningkatkan hasil pengobatan. Ketika kanker ditemukan sejak dini, pengobatan biasanya lebih efektif dan tidak terlalu rumit.


Temui dokter jika Anda mengalami:


  • Gejala yang berlangsung lebih dari dua minggu
  • Benjolan di lehermu
  • Nyeri terus-menerus di mulut atau tenggorokan Anda
  • Perubahan pada suara atau saat menelan


Periksakan diri Anda di Bali International Hospital


Jika Anda mengalami salah satu gejala ini atau ingin mengambil pendekatan proaktif terhadap kesehatan Anda, rumah sakit internasional kami menawarkan layanan komprehensif layanan onkologi Didukung oleh ahli onkologi berpengalaman dan teknologi diagnostik modern. Dengan akses ke pilihan skrining canggih, termasuk paket layanan radiologi dan pemeriksaan MRI seluruh tubuh untuk skrining kanker, pasien dapat memperoleh manfaat dari diagnosis yang akurat dan dini.


Ambil Tindakan untuk Kesehatan Anda


Kanker kepala dan leher adalah penyakit serius, tetapi banyak kasus dapat diobati dengan sukses, terutama jika dideteksi sejak dini. Mengetahui gejala dan faktor risikonya membantu Anda selangkah lebih maju.

Jika ada sesuatu yang terasa tidak beres, jangan abaikan. Hubungi penyedia layanan medis tepercaya Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut, atau buat janji temu untuk mendapatkan perawatan yang tepat sesegera mungkin.


Pertanyaan yang Sering Diajukan


Apa saja jenis kanker kepala dan leher yang paling umum di Indonesia?


Di Indonesia, sebagian besar kanker kepala dan leher adalah karsinoma sel skuamosa yang menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas. Jenis yang paling umum adalah karsinoma nasofaring (NPC).


Jenis umum lainnya meliputi:

  • Kanker rongga mulut (mempengaruhi lidah, gusi, dan lapisan mulut)
  • Kanker laring (kotak suara)
  • Kanker orofaringeal dan hipofaringeal (bagian belakang dan bawah tenggorokan)


Kanker tiroid juga sering dimasukkan dalam kelompok ini, meskipun sedikit berbeda dari yang lain.


Apa perbedaan Kanker Nasofaring (NPC) dengan kanker kepala dan leher lainnya?


Kanker nasofaring bermula di nasofaring, yang terletak di belakang hidung. Area ini lebih sulit dilihat dibandingkan dengan mulut atau tenggorokan, sehingga kanker mungkin tidak terdeteksi sejak dini.


Penyakit ini juga sangat terkait dengan virus Epstein-Barr (EBV), tidak seperti banyak kanker kepala dan leher lainnya yang sebagian besar disebabkan oleh merokok dan konsumsi alkohol. NPC dapat menyebar lebih awal ke kelenjar getah bening di dekatnya, tetapi biasanya merespons dengan baik terhadap pengobatan radiasi.


Apa saja gejala yang umum terlihat pada pasien kanker mulut atau kanker tenggorokan?


Untuk kanker mulutTanda-tanda umum meliputi:

  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh
  • Bercak merah atau putih
  • Benjolan di mulut
  • Nyeri saat mengunyah atau menelan


Untuk kanker tenggorokan, gejalanya sering meliputi sakit tenggorokan yang berkepanjangan, kesulitan menelan, suara serak, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau benjolan di leher. Gejala-gejala ini mungkin tampak ringan pada awalnya, tetapi jika berlangsung lebih dari beberapa minggu, penting untuk memeriksakan diri ke dokter.


Mengapa jenis kanker kepala dan leher tertentu lebih umum terjadi di Asia?


Beberapa jenis kanker kepala dan leher, terutama karsinoma nasofaring, lebih umum terjadi di Asia karena kombinasi beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi:



  • Genetika
  • Infeksi seperti EBV
  • Yakin kebiasaan diet dan gaya hidup



Sebagai contoh, penggunaan tembakau, mengunyah sirih, dan mengonsumsi makanan yang diawetkan atau asin dapat meningkatkan risiko. Di beberapa daerah, keterbatasan akses terhadap pemeriksaan dini juga berarti kanker sering ditemukan pada stadium lanjut.