Bali International Hospital
Bali, 13 Februari 2026 - PT Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (IHC), Bank Mandiri, dan InJourney Aviation Services (IAS) meluncurkan layanan wisata medis Terintegrasi pertama di Indonesia yang menghubungkan layanan kesehatan, perbankan digital, dan pendampingan perjalanan udara dalam satu ekosistem terpadu di Bali International Hospital (BIH). Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat ekosistem BUMN sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat.
Wakil Presiden Senior Solusi Produk Simpanan Ritel Bank Mandiri Rudi Nugraha menjelaskan bahwa integrasi layanan ini memungkinkan masyarakat mengakses paket Medical Check-Up (MCU) di BIH secara digital melalui satu platform dengan dukungan basis pengguna Livin' by Mandiri yang telah melampaui 37,2 juta pada akhir 2025 lalu.
Rudi menambahkan, untuk dapat menikmati kemudahan tersebut, pelanggan mengakses cukup fitur Sukha di Livin' by Mandiri, memilih paket MCU di BIH, menentukan jadwal, serta menyelesaikan transaksi secara digital sebelum memperoleh konfirmasi dan panduan perjalanan.
“Melalui fitur Sukha di Livin' by Mandiri, kami terus menghadirkan solusi gaya hidup yang bernilai tambah bagi nasabah. Integrasi layanan MCU Premium Bali International Hospital dengan VIP Airport Assistant Joumpa merupakan langkah strategi untuk memberikan pengalaman layanan yang seamless, nyaman, dan terintegrasi end-to-end dalam satu platform digital,” ujar Rudi.
Setelah pemesanan terkonfirmasi, rangkaian layanan berlanjut pada aspek perjalanan melalui layanan Joumpa IAS setibanya di Bandara Ngurah Rai, mulai dari penyambutan, bagasi, fast track, hingga transportasi menuju BIH, sehingga menghadirkan pengalaman end-to-end yang efisien dan nyaman bagi pasien maupun pendamping.
Sementara itu, Direktur Komersial IHC dr. Harmeni Wijaya menjelaskan, kesiapan fasilitas dan standar layanan BIH menjadi fondasi utama dalam penguatan daya saing pariwisata medis nasional. Sebagai bagian dari rumah sakit di bawah naungan IHC, BIH berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Kesehatan (KEK) Sanur dan menjadi pusat layanan program ini dengan fasilitas 255 tempat tidur, delapan kamar operasi, 38 ruang ICU, dan empat cath lab.
Rumah sakit bertaraf internasional ini, diperkuat teknologi MRI 3.0 Tesla, CT 256-slice, PET-CT, Varian TrueBeam, dan SagiNova Brachytherapy, serta kolaborasi global bersama SingHealth (Singapura), ICON Cancer Centre (Australia), Innoquest & Pathology Asia, hingga Sapporo Cardiovaskular Clinic (Jepang). Program ini juga diperkuat jaringan IHC yang mencakup 38 rumah sakit dan 72 klinik di seluruh Indonesia, memastikan kesinambungan layanan pasca pemeriksaan.
“Inisiatif ini merupakan upaya dalam memperkuat daya saing Indonesia di pasar wisata medis regional. Dengan fasilitas BIH yang berstandar global serta layanan terintegrasi sejak proses reservasi hingga pemeriksaan, kami ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan medis premium,” ujarnya.
Senada, Direktur Komersial IAS Muchdian Muchlis, menegaskan peran strategis IAS dalam mendukung konektivitas dan layanan medis. Sebagai bagian dari ekosistem penerbangan nasional, IAS memastikan pengalaman pasien dan pendamping berlangsung lancar sejak tiba di bandara hingga menuju fasilitas kesehatan. Melalui layanan Joumpa, kami menghadirkan asistensi personal mulai dari penyambutan, fast track, pengelolaan bagasi, hingga transportasi menuju Bali International Hospital.
“Kami percaya, kenyamanan perjalanan merupakan bagian penting dari proses pemulihan dan kualitas layanan kesehatan itu sendiri. Kolaborasi strategi bersama IHC dan Bank Mandiri ini menjadi wujud komitmen kami dalam mendukung positioning Indonesia, khususnya Bali, sebagai destinasi wisata medis berstandar global,” ujarnya.
Kolaborasi IHC, Bank Mandiri, dan IAS ini diproyeksikan menjadi model sinergi BUMN dalam membangun ekosistem wisata medis nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Integrasi layanan kesehatan, keuangan digital, dan konektivitas penerbangan tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing sektor kesehatan sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata berbasis layanan medis secara berkelanjutan.